Piramida.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy
Rabu, Oktober 21, 2026
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas
No Result
View All Result
Piramida.id
  • Berita
  • Dialektika
  • Dunia
  • Edukasi
  • Ekologi
  • Ekosospolbud
  • Kabar Desa
  • Pojokan
  • Sains
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Spiritualitas
HomeEkologi

Hutan Mangrove: Pelindung ‘Bencana’ yang Terabaikan dan Terancam

byRedaksi
01/08/2020
inEkologi
120
SHARES
859
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Telegram

PIRAMIDA.ID- Hutan mangrove mampu jadi pelindung dari bencana seperti tsunami hingga bisa mengurangi korban jiwa dan harta benda. Ketika tsunami datang, mangrove bisa menahan dan memecah gelombang pasang.

Onrizal, pakar lingkungan hidup dari Universitas Sumatera Utara mengatakan, dari sejumlah penelitian selama beberapa tahun terakhir, ekosistem mangrove jadi salah satu yang mampu menekan korban jiwa ketika tsunami terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Sebaliknya, korban cukup banyak di wilayah dengan hutan mangrove sudah hancur.

Ketika tsunami 26 Desember 2004, memperlihatkan mangrove itu adalah pelindung pesisir, baik dari tsunami maupun badai. Contoh di Lahewa, Nias Utara. Rumah-rumah masyarakat hanya dibangun dari tepas dan atap rumbia, aman dari terjangan tsunami. Mereka terlindung hutan mangrove yang baik.

Kondisi ini, katanya, memperlihatkan betapa penting hutan mangrove bagi manusia. Sebaliknya, di Aceh, sebelum dan sesudah tsunami mangrove di Ulele hancur jadi pemukiman. Ketika tsunami, di sana banyak korban. Di Simeulue, korban tsunami sangat kecil sekali, karena kerapatan hutan mangrove cukup baik.

“Ekosistem mangrove sangat produktif, mampu melindungi manusia, namun akan jadi sangat rentan kalau ada gangguan,” katanya, belum lama ini.

Onrizal mengatakan, sebagai tempat perkembangan biota perairan. dari berbagai riset diketahui kalau mangrove sehat, biota di perairan makin banyak. Sebaliknya, kalau mangrove rusak menyebabkan kerusakan biota perairan seperti ikan, udang dan kepiting.

Mangrove, katanya, sangat penting untuk menyerap dan menyimpan karbon. Hasil penelitian Danoto 2011 menyebutkan, hutan mangrove Indo-Pasifik memiliki kapasitas penyimpanan karbon empat sampai lima kali dari ekosistem hutan daratan, bisa hutan tropika dan lain-lain.

Data terbitan WHO, kurun 34 tahun, dunia kehilangan 30% hutan mangrove. Indonesia, penyumbang kerusakan ekosistem mangrove terbesar secara global, terparah adalah wilayah pantai timur Sumatera bagian utara.

Faktor penyebab kerusakan mangrove, katanya, antara lain, alih fungsi lahan jadi perkebunan sawit, perusakan kayu bakau untuk kayu arang, tambak, dan dirambah jadi perladangan ilegal masyarakat. Parahnya, lagi belum ada keseriusan pemerintah menekan laju kerusakan ekosistem mangrove.

Pada periode itu, Indonesia adalah penyumbang terbesar. Jadi, kala dunia kehilangan 800.000 hektar ekosistem mangrove, lebih dari separuh dari Indonesia.

Untuk hutan mangrove pantai timur Sumut, pada 2018, Onrizal studi parsial, dengan membandingkan kurun 30 tahun terakhir, dengan citra satelit 1989-2018.

Dalam rentang 30 tahun, pesisir dari Aceh Timur sampai ke Deli Serdang, Sumut, sudah kehilangan tutupan mangrove 59,6%.

Untuk Sumut, berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Sumut, sampai 2014, kondisi mangrove masih tersisa sekitar 36.000 hektar.   Dari angka itu, berdasarkan riset Onrizal, kehilangan mangrove mendekati 60%.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas hutan mangrove dunia sekitar 16, 530 juta hektar, Indonesia sekitar 3, 489 juta hektar.

“Yang masih bertahan 40%, sisanya 24% jadi semak belukar karena ada perambahan kayu bakau untuk dapur arang. Jadi pertanyaan, adakah operasi penegakan hukum atau tidak? Sampai sekarang, kerusakan mangrove terus terjadi,” kata Onrizal.

Dari penelitiannya, sekitar 27% kehilangan mangrove di Sumatera bagian utara karena tambak udang, ikan juga pertanian maupun perkebunan sawit.

Perkebunan sawit, katanya, jadi penyumbang terbesar kerusakan ekosistem mangrove di timur Sumatera bagian utara. Di Pangkalan Susu, hingga ke Pulau Kampai, terus ke jalur perbatasan Sumut-Aceh, sejak 1989-2018 , sudah kehilangan 65% hutan mangrove. Mangrove-mangrove ini rusak karena penebangan buat kayu dan arang, dan alih fungsi lahan jadi perkebunan sawit. Penebang begitu serampangan. Pohon-pohon kecil pun terlibas.

Untuk mangrove hutan konservasi, dia mengambil contoh di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut.

Dia membandingkan kondisi hutan mangrove konservasi pada 1989, 2009 dan 2018. Data Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumut, sampai 2014, hutan Karang Gading seluas 15.965 hektar.

Berdasarkan riset Onrizal, dalam 30 tahun terakhir kehilangan hutan mangrove Karang Gading 25,6%. “Mestinya, kawasan konservasi makin baik bukan hancur.”

Menurut Onrizal, setelah bencana tsunami ada program rehabilitasi mangrove tetapi belum bisa menutupi kehilangan. Berarti, kehilangan mangrove lebih besar daripada kemampuan memulihkan.

“Kalau rehabilitasi, belum tentu sukses. Kalau dirusak, sudah pasti terjadi. Perbaikan belum tentu.”

Dana Prima Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Sumut mengatakan, mangrove di pantai timur Sumut membentang sepanjang 314 km mulai dari Langkat sampai Labuhan Batu Selatan. Dalam kurun 13 tahun terakhir, keadaan rusak parah. Setidaknya, ada 12.565 hektar hutan mangrove sudah turun status jadi area peruntukan lain (APL). Parahnya, kerusakan pada 2019 mencapai 9.461 hektar.

Penyumbang utama kerusakan mangrove, katanya, perkebunan sawit 40% (turun status kawasan), tambak 35%, pertanian 25%, dan lain-lain 5%, baik itu abrasi karena reklamasi tambang pasir dan lain-lain.

Kalau lihat website KLHK, hanya ada empat perusahaan perkebunan sawit di pantai timur Sumatera bagian utara yang mengantongi izin. Selebihnya, perkebunan sawit tumbuh subur diduga ilegal.

Pemiliknya, kata Dana, mulai dari oknum aparat keamanan, oknum anggota dewan, sampai oknum pemerintahan.

Dia mendesak, aparat penegak hukum harus bertindak menyidik masalah ini demi menyelamatkan mangrove di kawasan itu.

Pantai timur Sumatera bagian utara, katanya, kantong kemiskinan tinggi tetapi perbaikan taraf hidup maupun lingkungan belum jadi prioritas pemerintah Sumut.

Kondisi ini kalau terus terjadi, tak hanya kemiskinan bertambah, tetapi bencana ekologis mengintai.

Dana bilang, Pemerintah Sumut sama sekali belum melihat masalah ini penting. Padahal, alih fungsi makin lama makin luar biasa. Pemerintah daerah, katanya, harus melihat pesisir pantai untuk perbaikan, rehabilitasi dan penegakan hukum.


Sumber: Mongabay.co.id/Ayat S Karokaro

Tags:#bakau#bencana#hutan
Share48SendShare

Related Posts

PIKI Peduli Hadir untuk Masyarakat Kalteng

22/09/2026

PIRAMIDA.ID | Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa 22 September 2026 Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) melalui...

KN-LWF Indonesia, GMKI PSS, AMAN Tano Batak Gelar Diskusi: “Pemuda Untuk Hutan, Hutan Untuk Masa Depan

01/04/2026

PIRAMIDA.ID | Pematangsiantar - KN-LWF Indonesia bersama GMKI Pematangsiantar-Simalungun dan AMAN Wilayah Tano Batak menggelar diskusi (Ngopi & Nalar) dengan...

Suara dari Bonapasogit: Gereja dan Masyarakat Sipil Serukan Penutupan PT TPL

15/07/2025

PIRAMIDA.ID - Suasana haru dan semangat memenuhi ruang pertemuan Hotel Serenauli, Laguboti, ketika lebih dari 150-an orang dari berbagai latar...

Menelusuri Asal Usul Makna Warna Hijau & Gerakan Lingkungan

05/03/2023

PIRAMIDA.ID- Pada Februari 1970, sekelompok hippie dan aktivis berkumpul di Vancouver, Kanada untuk membahas rencana uji coba nuklir di Pulau...

Perspektif Sosiologi terhadap Permasalahan Eksistensi Nelayan Skala Kecil

27/10/2022

Oleh: Adhitya Qurdiansyah (2205030012) PIRAMIDA.ID- Nelayan merupakan sebuah istilah bagi setiap individu atau kelompok yang mana kesehariannya bekerja menangkap ikan...

Di Jambi Penyelesaian Konflik Agraria Dinilai Setengah Hati, WALHI Ungkap Sejumlah Persoalan

26/07/2022

PIRAMIDA.ID- Proses penyelesaian konflik agraria di wilayah Provinsi Jambi, diakui masih menapaki jakan terjal oleh Manager Advokasi Wahana Lingkungan Hidup...

Load More

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Terkini

Berita

ILAJ Minta Kajari Simalungun Serius Tangani Dugaan Korupsi Dana TPG Di SD Al Washliyah 90 Sinaksak

17/10/2026
Berita

ILAJ Nilai Kajari Simalungun Lambat Tetapkan Tersangka Dugaan Pungli PDAM Tirta Lihou, Potensi Kerugian Warga Rp225 Juta

17/10/2026
Berita

Kemiskinan Disorot, Rocky Marbun Tagih Keberpihakan Pemko

16/10/2026
Berita

Ketua ILAJ Minta DLH Pematangsiantar Periksa Penggunaan Bahan Kimia PT Bumi Sari Prima, Dorong Transparansi dan Jaminan Keamanan Produk Tepung

12/10/2026
Berita

Ketua ILAJ Desak Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Bayi 8 Bulan di Labura Diusut Tuntas

12/10/2026
Berita

Ketua ILAJ Soroti Kasus Perundungan Siswi SD di Medan, Minta Polisi Usut Tuntas

12/10/2026

Populer

Berita

Kemiskinan Disorot, Rocky Marbun Tagih Keberpihakan Pemko

16/10/2026
Berita

ILAJ Nilai Kajari Simalungun Lambat Tetapkan Tersangka Dugaan Pungli PDAM Tirta Lihou, Potensi Kerugian Warga Rp225 Juta

17/10/2026
Pojokan

Profesi Apoteker: Perannya Besar dan tak Sekedar Menunggui Apotek

27/09/2020
Berita

Jaksa Rumondang Manurung tuntut 1 Tahun penjara petugas Imigrasi yang membantu mengatur penyelundupan Narkotika Cair

23/07/2026
Ilustrasi/Akun Twitter @Nobodycorp
Pojokan

Cerpen: 1998

24/08/2020
Berita

ILAJ Minta Kajari Simalungun Serius Tangani Dugaan Korupsi Dana TPG Di SD Al Washliyah 90 Sinaksak

17/10/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • Kabar Desa
  • Dunia
  • Ekologi
  • Dialektika
  • Sopolitika
  • Sorot Publik
  • Lainnya
    • Ekosospolbud
    • Pojokan
    • Sains
    • Spiritualitas

© 2020-2024 Piramida ID

rotasibarakberita hari iniberita boladanau tobafons nuntiorum infamissimus